Kisah Bertahan Hidup (Lahirnya UMKM Jilid Pandemi)
Hampir 8 bulan telah Wabah menempa Tanah Air. Ya, persisnya akhir Februari 2020 kemarin. Saya ingat sekali waktu itu kebijaksanaan Kementerian Pengajaran ialah tutup sekolah serta mulai mengaplikasikan kegiatan evaluasi dari rumah. Bentrokan pertama kali yang cukup mengguncangkan untuk saya serta teman-teman guru di sekolah. Karena mulai sejak itu aktivitas evaluasi dilaksanakan semua dari rumah.
Tipe Ayam Yang Sering Menang Taruhan
Sekolah tempat saya mengajar ialah sekolah swasta. Jangan pikirkan apakah yang berlangsung saat aktivitas semua dilaksanakan dari rumah! Pergolakan dari wali murid yang tuntut untuk kemudahan pembayaran SPP tentu saja berpengaruh di kehidupan ekonomi beberapa guru.
Evaluasi dari rumah yang digadangkan jadi jalan keluar kenyataannya bawa permasalahannya sendiri. Untuk warga wilayah seperti pada Sampit (Kalimantan tengah) pemakaian tempat evaluasi daring tidak langsung dapat dilaksanakan secara lancar. Masalah-kendala kepahaman guru akan kehebatan tehnologi baru cukup melelahkan serta pikiran. Belum juga tuntutan yang lain mengikuti dibalik tekonologi itu yakni detail standard handphone yang dapat menjalankan aplikasi seperti Zoom serta Google Classroom dan ongkos paket data menambahkan persoalan baru. Cukup banyak guru-guru mau tak mau mengambil tabungannya untuk beli handphone yang detailnya lebih hebat supaya bisa lakukan PBM dari rumah.
Di sini saya tidak mau memberi komentar bagaimana pengajaran berjalan pada saat Wabah COVID-19 ini lho ya. Walau kenyataannya kebijaksanaan belajar daring benar-benar tidak sepadan efeknya bila yang diperhitungkan ialah kecemasan timbulnya klaster sekolah--sementara beberapa pasar dibuka--padahal bila ini selalu didiamkan mungkin bangsa ini terancam hadapi musibah Lost Generation 5 sampai 10 tahun depan. Satu kali lagi, saya tidak mau memberi komentar itu. Saya cuman pengin menceritakan bagaimana imbas dari wabah untuk kehidupan ekonomi segelintir rakyat Negeri ini dari pemikiran kehidupan individu yang saya alami.
EKONOMI KELUARGA KECIL 4.0
Jika beberapa negara tetangga berteriak di dalam rumah saja agar dapat bertahan hidup, kelihatannya itu tidak berlaku dengan Negeri ini. Sebab di dalam rumah saja berarti bunuh diri. Di dalam rumah saja tiada pendapatan, bagaimana dapat makan. Pada akhirnya risiko terjangkit COVID-19 tidak lagi jadi momok untuk warga kelompok menengah ke bawah. Momok lebih beresiko itu ialah kelaparan serta kritis pendapatan. Lebih bagus mati bertahan hidup (untuk penuhi keharusan nafkah) dibanding bertahan hidup dengan menanti saja kematian itu tiba ke rumah dalam bentuk virus tidak nampak. Bahasa pasarnya Bodo sangat!
Saya juga harus harus begitu. Tanggungan keluarga kecil kemungkinan tidak seberat beberapa pebisnis yang perlu memikul beberapa puluh bahkan juga beberapa ratus nasib pegawainya. Tetapi hidup teruslah hidup. hehe. Pada akhirnya sepanjang di dalam rumah saja, inspirasi mengawali usaha online ada. Saya serta istri bermufakat untuk meningkatkan pemasaran online produk serba-serbi. Ya, walau di awal mula wabah bukan itu yang banyak dicari, alhamdulillah sehari-harinya ada-ada saja yang order.
Sesudah satu bulan berjalan, jika dihitung-hitung keperluan susu serta popok anak cukup. Sesaat keuntungan dari pemasaran produk serba-serbi tidak dapat penuhi keperluan harian, seterusnya saya coba jual makanan bikinan rumah yakni Pizza. Alhamdulillah, pizza di waktu wabah banyak pecintanya. Kasarannya jika keuntungan pemasaran per produk 10 ribu, dapat lah untuk berbelanja beras sebab umumnya dapat keuntungan sampai 100ribu.
Hari untuk hari di waktu wabah pada akhirnya jadi kenormalan baru untuk kami. Mengajar, merangkum pesanan serta mengantarkan pesanan jadi aktivitas yang normal sekarang. Perlahan-lahan tetapi tentu, turun naik dinamika usaha dapat dilewati. Alhamdulillah, modal awalnya mengawali usaha 6 juta dapat membuahkan keuntungan 20 juta per bulannya. Sambil mengharap tetap dinaikkan.
Nampaknya saya mulai masuk tingkatan ekonomi 4.0 dengan perlahan-lahan. Taktik jualan online mulai saya lahap satu demi satu dari beberapa sumber serta tutor ternama. Ya, ingin bagaimana lagi. Guru Bahasa Arab ini begitu sabar bila harus bertahan dengan upah yang umumnya telah habis untuk keperluan pada awal bulan. Sesaat tiap hari dapur harus tetap ngebul, asap knalpot motor tetap harus ngebul agar dapat mabur.
